Oleh
Saufat Endrawan BANDUNG - Menjelang digelarnya World Ranking Master yang akan digelar di Florida, AS pada 29 April - 7 Mei 2007, atlet bowling asal Indonesia Tannya Roumimper harus berlatih sendiri. Kemadirian peboling yang masih bersekolah kelas 1 SMA Santo Alasius Bandung ini, membuat kepercayaan dirinya semakin solid untuk berprestasi. “Saya berlatih sendiri untuk persiapan mengikuti World Ranking Master di Florida. Sebenarnya pelatih saya adalah papa saya. Tapi papa sakit sejak bulan yang lalu, jadi tidak bisa menyaksikan saya berlatih,” ujar Tanyya kepada SH disela-sela latihanya di Arena Batununggal Bowling, Bandung, Kamis (19/4).
Kendati demikian, Tannya tetap optimis akan meraih hasil yang maksimal di kejuaraan World Ranking Master mendatang. Baginya berlatih adalah kewajiban dan sudah seharusnya dilakukan. Jika tidak harus berlatih di Jakarta di Pelatnas untuk persiapan SEA Games 2007 di Thailand, Tannya berlatih sendiri di Batununggal Bowling. Tannya adalah anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan mantan pelatih selancar angin Robby Roumimper dan Monica Liana Susanto. Robby sebelumnya adalah atlet selancar angin Olimpiade Atlanta tahun 1996 ini, sempat menjadi pelatih selancar angin bagi tim Indonesia. Lebih jauh Tannya mengatakan, di kejuaraan World Ranking Master dia akan didampingi atlet wanita lainya Putty Armein. ebelum mengikuti kejuaraan ini Tannya telah berhasil meraih medali emas di kejuaraan Asian School di Thailand tahun 2006, meraih single silver di Asian Ten Pin Bowling Championship 2006, dan pada tahun yang sama berhasil meraih hasil terbaik di kejuaraan bowling di Surabaya dengan menyabet medali emas di kelas single dan double dan akhirnya berhasil meraih all event di Surabaya, hanya gagal di nomor trio dengan mendapatkan medali perak untuk kontingen Jabar. Atas kiprahnya tersebut membuat atlet andalan Jabar meraih peringkat delapan besardi tingkat Asia. Alhasil, ia bisa mengikuti kejuaraan World Ranking Master. jang World Ranking Master ini akan diikuti oleh pebowling dari tiga benua, Asia, Eropa dan AS. Setiap benua mengirimkan delapan atletnya yang diambil berdasarkan ranking dari satu hingga delapan. Ranking ini diambil dari raihan poin yang dikumulatifkan dari setiap pertandingan yang dilakukan di Asia sejak tahun 2006. endati demikian, ia sendiri belum tahu peta kekuatan lawan dan aturan main yang berlaku. Diakui gadis berkacamata kelahiran 10 November 1990 ini, ada permasalahan yang sangat sulit dihadapai selama persiapan untuk mengikuti kejuaraan ini, yaitu jadwal latihan bentrok dengan kegiatan sekolah. Pihak sekolah memang memberikan izin, tetapi bukan berarti malah terlena tanpa prestasi. source: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0704/21/ola06.html |